Dawuh – Dawuh (Nasehat) KH. Hasyim Sholeh

Nasehat

º     Para ulama’ dan hamba-hamba-Nya yang sholih adalah simpanan yang berharga dan keberuntungan bagi siapa saja yang mendapatkan siraman ruhani dari mereka. Nasehat-nasehat dari pribadi-pribadi pilihan Alloh inilah yang selalu diharapkan.

º    Pada bagian ini, akan disuguhkan nasehat-nasehat dari Mbah Hasyim. Perjalanan hidup seorang ulama selalu terkandung kisah hidup yang patut diteladani. Perkataan dan perbuatan hamba-hamba yang sholih adalah teladan bagi mereka yang mendambakan keridhaan Allah.

 

Santri

“Nek dadi pengurus, ojo rumongso dadi pengurus, rumongsoho dadi santri,” nasehat Mbah Hasyim kepada kang Kasmuji (santri) pada suatu kesempatan. (111) Dalam suatu kesempatan lain, Mbah Hasyim pernah memberi nasehat kepada santri-santrinya, bahwa santri tidak perlu puasa senin-kamis, yang penting kita tekun dalam belajar. (115)

“Cah pondok ora tak wajibne apal / ngamalne Dzikrul Ghofilin. Tapi nek iso apal, iku ono nilai pluse,” pesan Mbah Hasyim. (68) Mbah Hasyim sering memberi nasehat, “Dadi santri ojo gumunan!” (74) Nasehat Mbah Hasyim, ”Ojo wedian, ojo gumunan, ojo kagetan” ternyata juga ditemukan dalam suatu tulisan di prabon (makam) Presiden Soeharto. Jadi, nasehat tersebut termasuk salah satu pepatah Jawa. (24)

“Dadi santri, kudu siap dadi serbe’te masyarakat,” nasehat Mbah Hasyim. Dikandung maksud, bahwa seorang santri harus siap menjadi abdi masyarakat dalam menegakkan ajaran ilahi. (117)

Pesan Mbah Hasyim kepada santrinya adalah agar betul-betul melaksanakan 3 hal ; 1) Jamaah sholat 2) mentaati peraturan 3) tadarus Qur’an. Pada ketiga hal itulah, dungone Yai dilumpokne. Berkaitan dengan hal tersebut, Mbah Hasyim pernah mengatakan, “Dianggep santriku nek manut karo aku.” Mbah Hasyim tidak suka (menghendaki) santri yang banyak, tetapi…(117)

º  Mbah Hasyim sangat senang sekali apabila santri-santrinya tidak menjadi buruh/pegawai, tetapi justru menciptakan lapangan pekerjaan, اليد العليا. (132) Mbah Hasyim sangat tidak senang apabila kita menggantungkan diri kepada orang lain dalam hal urusan ekonomi. Jadilah orang yang mampu mendatangkan karyawan, dan janganlah menjadi karyawan. Setelah lulus sekolah di MA, Gus Sami’ berniat untuk kuliah. Saat mengutarakan niatnya tadi kepada Mbah Hasyim, Mbah Hasyim menjawab, “Nek awakmu arep kuliah, terus dadi PNS, pek-pek en dewe, aku ora njaluk. Goleko biaya dewe’, aku moh mbiayai. Tapi nek awakmu mondok, ora ke’tang gre’sek-gresek, tak iwangi.” (117)

º  Suatu malam, kang Jalal mijeti Mbah Hasyim. Ketika datang menghadap Mbah Hasyim, kang Jalal sambil membawa kitab Arba’in Nawawi. Di tengah-tengah mijeti tadi, kang Jalal di tes oleh Mbah Hasyim agar membacakan hadis dalam kitab Arba’in Nawawi tadi, yaitu hadis اذالم تَسْتَحِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ

Berkaitan dengan kandungan hadis tersebut, Mbah Hasyim  berkomentar, “Nek awakmu ora isin, lakonono opo sing mbok karepne’.” ucap Mbah Hasyim. (117)

º  Mbah Hasyim pernah memberi nasehat kepada Pak Taufik :

–          Agar mengamalkan Dzikrul Ghofilin. “Kowe’ kudu nggolek 40 andalan. Lha awakmu, nggolek siji wae, sak umur uripmu ora bakal iso. Mulakno, amalno Dzikrul Ghafilin.”

–          “Arep nglakoni keapikan opo wae, supoyo tawassul.”

–          Ngamalno opo-opo, gak usah ngurusi atimu, engko lak diopeni Gusti Allah.” (121)

º  Mbah Hasyim pernah memberi nasehat kepada Pak Rohmat Blitar, “Wong iku koyok Janoko ke lho. Dlendem-dlendem, tapi duwe bojo neh.” Ini sebatas kiasan dari Mbah Hasyim. Maksudnya adalah, “Tidak usah banyak omong, sing penting meneng-meneng, tapi hasile/wujude nyoto!” (17)

º  Saat masih mondok di Mayak, kang Sugeng pernah mengalami kondisi was-was dalam berwudhu, sholat maupun ibadah lainnya. Ketika berwudhu dan kemudian terkena cipratan air wudhu orang disebelahnya, telah membuatnya ragu-ragu. Ketika sholat di masjid, ia merasakan kalau di masjid banyak najisnya. Perasaan seperti itu terus menghantui dalam langkah kang Sugeng. Usaha bertanya kepada para guru (seperti Pak Rohmat) pun ia lakukan, tetapi belum menemukan solusinya.

Lalu sowanlah kang Sugeng ke Mbah Hasyim. Mendengar semua keluhan kang Sugeng tadi, Mbah Hasyim menjawab, “Surgo iku mahal sekali. Mbok menungso iku wiwit lahir sampek mati sholat terus, ngono mau urung mesti mlebu surgo. Terus nyapo sampean menyibukkan dengan perbuatan ngono kuwi.” Mbah Hasyim juga mengibaratkan (mencontohkan), kalau sholat di emperan (halaman rumah), asalkan tidak tampak najisnya, maka hukumanya sah (tidak apa-apa). Waktu itu, Mbah Hasyim mencontohkan emperan tanah di depan rumah beliau. Intinya, Mbah Hasyim memberi nasehat, bahwa manusia masuk surga bukan karena amalnya, tetapi semata-mata karena rahmat Allah. (115)

º  Saat mijeti Mbah Hasyim, kang Kasmuji pernah diberi nasehat oleh Mbah Hasyim, “Aurod (dzikir) opo wahe ojo dilakoni, cukup wirid Dzikrul Ghofilin. Yakino neng Dzikrul Ghofilin, wis nyangkup kabeh. Aku wis ngonceki neng kitab-kitab, kabeh mau wis kecangkup neng Dzikrul Ghofilin (ulama-ulama yang ditawassuli maupun faedah-faedah bacaannya). (114)

º  Sebelum sowan kepada Mbah Hasyim untuk minta izin kuliah, kang Kasmuji mengkhatamkan Al-Qur’an 3 x selama 10 hari di masjid. Tujuan mengkhatamkan Al-Qur’an tadi adalah supaya hatinya bersih, bisa menerima dawuhe Mbah Hasyim. “Supoyo atiku resik nompo opo dawuhe Yai. Wedi nek keputusane Yai gak sesuai karo keingananku, “gumamnya dalam hati.

Akhirnya, kang Kasmuji sowan kepada Mbah Hasyim menghaturkan niatnya untuk kuliah sekaligus meminta izin. Selesai mendengar dan mengetahui maksud dan tujuan kang Kasmuji, Mbah Hasyim menjawab, “Alhamdullilah kang, nek sampean pingin kuliah. Nomor :

1.    Nek ra pingin belajar, kudu ngajar.

2.    Neng pondok ora jaminan mlebu surgo, neng kampus yo ora jaminan dadi sugih. Sing slamet, ojo diniati neko-neko.

3.    Ojo melok demo, tak haramke melok demo (alasan Mbah Hasyim, karena demo tidak sesuai dengan ajaran kitab Ta’lim Muta’allim).” (114)

º  Ketika akan menikah, Pak Din dan Pak Arba’i sowan ke dhalem untuk meminta doa dan restu Mbah Hasyim. Oleh Mbah Hasyim, keduanya dipeseni (diberi pesan) agar bertawassul kepada Auliya’ yang ada dalam Dzikrul Ghofilin sebelum melakukan akad nikah. Karena, para Auliya’ yang ditawassuli itulah yang akan hadir pada waktu akad nikah nanti. (24)

Pondok

º  Nasehat Mbah Hasyim kepada Pak Thoyyib saat menjadi pembimbing keamanan pondok adalah, ”Santri nakal iku ojo digethingi, tapi didungakne!” (sama dengan nasihat Mbah Hasyim). (24)

º  Diantara pesan Mbah Hasyim pada kegiatan ziarah ke makam (saat acara KBIH) adalah :

–  “ “تشفع

–  “Ora seneng dunyo.”

–  “Ojo mbathi (panitia jangan mencari untung).” (124)

º  Diantara pesan Mbah Hasyim kepada orang-orang yang terlibat di PPDH, baik pada kegiatan manasik maupun lainnya adalah, “Acara-acara iku kanggo nitipno awak, ngibadah dateng Allah.” (124)

º  Pesan Mbah Hasyim bagi ustadz yang akan mengajar agar bertawasul setelah mengucapkan salam kepada para peserta didik. Adapun niat tawasul untuk:

–  Madrasah agar langgeng

–  Hidiyah poro kekasihe Gusti Allah

–  Para pejuang madrasah

–  Warga awake dewe, khususe murid-murid

–  Mugo-mugo ilmune bermanfaat(40)

º  Mbah Hasyim berpesan, bahwa sebelum mengajar guru wajib persiapan. Mbah Hasyim mengatakan, bahwa Syaikh Ihsan Jampes saja yang sudah ‘alim (ma’rifat), ketika mengajar sudah menelaah kitab yang akan diajarkan dan minimal sudah menelaah 5 kitab sebagai bahan keterangan. Adapun bagi kita yang masih termasuk golongan awam, sudah barang tentu harus lebih melakukan persiapan sebelum mengajar. (52)

Masyarakat

-Laron

-Dzikrul Ghofilin dan Al-Fatihah

-Hanya ibadah

-Pak Joko dan Pak Bachtiar

-Pak Tholib

-Ziarah

º  Bagi Mbah Hasyim dan ini juga termasuk pesannya, bahwa hidup kita di dunia ini hanya untuk ibadah thok (saja), dunia nomor dua. (34)

º  Dalam urusan keluarga, Mbah Hasyim berpesan agar bersikap hidup sederhana. Contohnya dalam hal memasak, maka memasaklah secara sederhana, tidak berlebih-lebihan. (63)

º  Kaitannya dengan mendidik anak-anak (siswa), Mbah Hasyim pernah menyetir hadist :

من كان فى حاجة اخيه كان الله فى حاجته

            “Sopo wonge sing memenuhi hajat sedulure, mongko Gusti Allah bakal memenuhi hajate.” (122)

Laron

º  Saat acara PWM, Mbah Hasyim pernah memberikan mau’idhoh (nasehat), “Laron iku nek topo yo dadi gundiek, tapi nek pethok pandhangan diampiri, yo lare ilang.” (124)

º  “Hati itu ibarat lampu neon, semakin terang, maka semakin banyak laron (nama serangga) yang datang. Begitu juga manusia, bila hatinya bersih, maka orang pun akan berbondong-bondong mendatanginya. Makanya, bila ingin menjadi manusia yang diperlukan/ berguna bagi orang banyak, maka bersihkanlah hatimu, tidak perlu promosi” (nasehat yang pernah diungkapkan Mbah Hasyim). (14)

º  Diantara pesan Mbah Hasyim : 1) Sabar, 2)Manfaatkan waktu (isi waktu dengan kegiatan bermanfaat), 3) Dalam suatu majlis, janganlah membicarakan aib orang lain dan 4) Berkaitan suatu hal yang rahasia, hendaklah hanya diberitahukan kepada orang terbatas (mereka yang mampu menjaga rahasia) (22)

Dzikrul Ghofilin dan Al-Fatihah

º  Mbah Hasyim mengingatkan, bahwa dalam melaksanakan Dzikrul Ghofilin, diniati untuk ibadah saja. (129) Dikandung maksud, janganlah kegiatan ’ubudiyyah tercampuri oleh perkara-perkara dunia. Lagi pula, seseorang yang mengabdikan diri pada jalan ilahi, maka segala urusan dunianya akan terselesaikan.

º  Mbah Hasyim memberi perintah Pak Zaenal agar mengamalkan Al-Fatihah sebanyak-banyaknya. Ketika kenal dengan Gus Miek pun, Mbah Hasyim juga diperintah Gus Miek untuk mengamalkan membaca Al-Fatihah. (127)

Hanya ibadah

º  Mbah Hasyim mengingatkan kita agar selalu mengerjakan ibadah, apapun bentuknya. Mbah Hasyim memberi contoh, siapa tahu, kalau ibadah kita yang diterima Alloh adalah justru saat kita nyisihne pilangan (membuang sisa bungkus nasi waktu Simaan Al Qur’an) ke tempat sampah. (22)

º  Diantara pesan Mbah Hasyim, “Awake dewe nek arep ngalor, kudu genah alasane nek ditakoni Pengeran. Nek ora iso, yo ojo ngalor.” (68)

º  “Nek pengen derajat dhuwur, dimusuhi / dinesoni wong ojo direken. Nek mbok re’ken, berarti awakmu podho karo wong mahu.” (118)

º  Mbah Hasyim : “Wong nek bengi, raketang melek thok, iku hikmahe gedhe!” (16) Ini sejalan dengan laku tirakat Mbah Hasyim yang selalu terjaga di malam hari (saharul layali). Tirakat seperti ini Mbah Hasyim lakukan semenjak remaja hingga dijemputnya ajal.

º  Pesan Mbah Hasyim : ”Ngapiki wong iku wis termasuk ngamalne tasawwuf.” (25)

º  Diantara pesan Mbah Hasyim, bahwa apabila kita mengejar keberhasilan di dunia ini, maka tidak akan bakal ketemu (menemukan). Berusaha (untuk urusan dunia) adalah sampingan hidup. (34)

Pak Joko dan Pak Bachtiar

º  Pada suatu kesempatan, Mbah Hasyim berpesan kepada Pak Joko (murid sekaligus tetangganya) agar menjaga sholat. (126)

º  Pesan Mbah Hasyim kepada Pak Bachtiar, Mlilir, “Neng endi wahe, ojo adoh songko masjid!”

º  Diantara pesan Mbah Hasyim adalah agar kita tidak ke warung. (77)

Pak Tholib

º  Mbah Hasyim pernah berpesan kepada Pak Tholib, bahwa orang kaya anggaplah musuh dan orang miskin anggaplah sebagai dulur (saudara). Ungkapan Mbah Hasyim ini harus dipahami dengan bijak. Bahwa dulur sejati adalah mereka yang bersaudara dengan kita dalam kebaikan dan dekat dengan kita dalam keadaan apa saja. Dulur sejati bukanlah saudara kandung, tetapi siapa saja yang apabila temannya susah maka ia ikut merasakan susah, dan apabila temannya gembira maka ia ikut bergembira. “Nek koncone susah, yo melu susah. Semono ugo sewalike,” ucap Mbah Hasyim. Hubungan seperti ini akan terus langgeng sampai hari akhirat. (46) Dikandung maksud dari pesan ini, agar kita waspada terhadap kekayaan, karena bila tidak berhati-hati, kekayaan bisa merusak ibadah kita. (2)

Ziarah

º  Agar hajat (niat) berziarah kita berhasil, maka kita harus memperhatikan tata cara maupun dzikir saat berziarah. Kepada Pak Yono, Mbah Hasyim pernah memberitahukan rahasia agar hajat kita berhasil ketika ziarah ke makam-makam.

Saat berziarah, hendaknya kita mengamalkan apa-apa (seperti wirid) yang menjadi kesenangan shohibul maqom. Masing-masing shohibul maqom mempunyai kecenderungan berbeda. Ada kalanya  shohibul maqom menyenangi wirid tertentu, maka kita mengamalkan wirid sebagaimana yang telah diamalkan shohibul maqom tadi. Tetapi, ada pula shohibul maqom yang ketika masih hidup, membaktikan diri dalam pendidikan, seperti mengajar, maka kita juga mencontoh apa yang  telah dilakukan shohibul maqom tadi dengan membaktikan dalam dunia pendidikan dengan sungguh-sungguh. Maka, hendaknya kita bisa menyesuaikan dengan semua itu. (53)

º  Mbah Hasyim pernah bertanya kepada H. Yono, “Apa sing nyepet-nyepeti mungguhi Mbah Ageng Tegalsari marang wong sing ziaroh kubur neng maqome?” Mendapat pertanyaan seperti itu, H. Yono hanya diam saja dan kemudian mengembalikan jawabannya kepada Mbah Hasyim. Mbah Hasyim akhirnya memberikan jawaban, bahwa Mbah Tegalsari itu mempunyai kebiasaan apik, ibadahnya sregep (bagus), sesrawungane juga bagus, dan lain-lainnya. Kalau orang yang berziarah ke makamnya tidak mau mencontoh perilaku bagus Mbah Ageng Tegalsari tadi dan dikemudian hari datang lagi ke makam untuk sowan, itulah sing nyepet-nyepeti bagi Mbah Ageng Tegalsari. (68)

2017 Powered By Wordpress, Mayak Theme By Darul Huda Digital Creative Team